Halaman Muka arrow Kajian arrow Membalas Kejahatan Dengan Kebaikan
Membalas Kejahatan Dengan Kebaikan E-mail
Thursday, 22 February 2007
Seri KAJIAN AKHLAK dan QOLBU
Daarut Tauhiid Jakarta 
Setiap Rabu,  jam 16.30 -  21.00
Pemateri : Ust.Drs.H.Diauddin,M.M.

Dalam rangka kita berusaha untuk menjadi hamba yang dicintai oleh Allah SWT, maka diantara usaha yang harus kita usahakan adalah selalu berbuat baik kepada orang lain. Allah berfirman di dalam surat Al Maidah : 13 "…Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berbuat baik". Ayat ini diantaranya memberi penjelasan kepada kita bahwa Allah cinta kepada golongan mukhsinin. Golongan mukhsinin yaitu golongan orang-orang yang selalu berbuat baik. Perbuatan baik yang dilakukannya tidak dihambat oleh kemarahan, ketidak cocokan,dan kekesalan pada dirinya, sehingga apapun yang terjadi pada dirinya berkaitan dengan berhubungan dengan sesama manusia golongan tersebut selalu berbuat baik kepada orang lain.

Berbuat baik kepada orang lain yang ada dalam golongan mukhsinin mencakup tiga hal :
 
a. Berbuat baik kepada orang lain setelah orang lain itu berbuat baik kepada dirinya.  
b. Berbuat baik kepada orang lain walaupun orang lain tidak pernah berbuat baik kepada dirinya.
c. Berbuat baik kepada orang lain walaupun orang lain berbuat tidak baik kepada dirinya.  

Kalau salah satu dari ketiga hal tersebut tidak ada, maka tidaklah masuk dalam golongan mukhsinin yang dicintai oleh Allah SWT.

Kalau orang tersebut tidak termasuk golongan mukhsinin karena dia berbuat baiknya cuma dua hal, maka tetap perbuatan baiknya akan dapat pahala dari Allah SWT, cuma perbuatan baik yang dilakukannya belum sampai ke tingkat golongan mukhsinin.

Untuk mencapai golongan mukhsinin diantara yang terberat dari kita yaitu berbuat baik kepada orang lain walaupun orang lain itu berbuat tidak baik kepada diri kita. Ke ikhsanan seseorang diantaranya ada di yang ke tiga itu, ke ikhsanan yang mantap bagi orang tersebut.
 
Oleh karena itu, dalam kita menjalani kehidupan di dunia ini, hati kita harus ditanami suatu prinsip Islami, yaitu "Aku mau berbuat baik kepada orang lain walaupun orang lain itu berbuat tidak baik kepadaku".

Dasar prinsip tersebut adalah Surat Ar Ra'ad : 22-24. Dikatakan  "…Dan orang-orang yang sabar, karena mencari keridhoan Tuhannya mendirikan sholat, dan menafkahkan sebagian rizki yang Kami berikan kepada mereka secara sembunyi atau terang-terangan serta menolak kejahatan dengan kebaikan, orang-orang itulah yang mendapat tempat kesudahan yang baik yaitu surga adr yang mereka masuk kedalamnya bersama-sama dengan orang-orang yang sholeh dari bapak-bapaknya, istri-istrinya dan anak cucunya, sedang malaikat-malaikat masuk ke tempat-tempat mereka dari semua pintu sambil mengucapkan Salamun 'alaikum bimarsobartum". Maka alangkah baiknya tempat kesudahan itu. Berdasarkan ayat ini diantara ciri dari pada ahlul jannah/ penduduk surga adalah menolak kejahatan dengan kebaikan.

Setelah hati kita tertanami prinsip Islami "Aku mau berbuat baik kepada orang lain walaupun orang lain itu berbuat tidak baik kepadaku", maka kelanjutannya yang harus kita upayakan adalah memunculkan prinsip yang tertanam dalam hati itu kepermukaan hati sewaktu terjadinya kejadian dimana orang itu berbuat tidak baik kepada diri kita, sehingga dengan munculnya prinsip Islami tersebut, prinsip Islami tersebut akan menetralisir gejolak-gejolak yang ada di permukaan hati, sehingga walaupun orang itu berbuat tidak baik kepada diri kita insya Allah hati kita akan terlindungi,terselamatkan dan terhindar dari kedendaman kepada orang lain.
 
Upaya yang lain, kalau seandainya hati kita kesal, marah, benci, dan panas bergejolak menghadapi perbuatan tidak baik orang lain pada diri kita, hati kita belum sanggup untuk berbuat baik pada orang itu, paling tidak mulut kita adalah berdoa kepada Allah SWT "Ya Allah ampunilah kesalahan-kesalahan dia, limpahilah hidayah dan taufik kepadanya sehingga dia tidak mengulang kembali perbuatan semacam itu". Dengan mulut kita berdoa semacam itu, itu berarti ada kecocokan antara perbuatan mulut kita dengan prinsip Islami yang ada di hati kita dan kecocokan semacam itu akan menghimpit gejolak-gejolak panas yang ada di hati kita. Kalau terus menerus itu dilakukan, insya Allah lambat laun akhirnya kita mudah berbuat baik kepada orang lain, walaupun orang lain berbuat tidak baik kepada diri kita.

Kita ambil contoh, tentu kita semua kenal Abu Jahal paman Nabi besar Muhammad SAW, Abu Jahal sangat keterlaluan dalam mewujudkan kebenciannya kepada Rasulullah SAW. Dia sering menghina,melecehkan Rasul dst. Suatu ketika Abu Jahal ingin membunuh Rasulullah, maka Abu Jahal bikin lubang parit yang besar di depan rumahnya, kemudian di samping lubang dikasih tumpukan pasir yang berkarung-karung, tujuannya adalah apabila Rasul itu masuk ke dalam jurang itu, maka langsung pasir yang berkarung-karung itu akan ditindihkan kepada Rasul, sehingga Nabi besar Muhammad SAW akan mati ditindihi oleh tumpukan pasir yang sangat banyak. Setelah parit itu dibikin, kemudian di atasnya dikasih kayu-kayu kecil dan sampah-sampah sehingga kalau orang itu menginjak ke situ maka otomatis akan terperosok ke dalam lubang tadi. Setelah selesai maka Abu Jahal berkata kepada pembantunya "Kasih tau kepada Muhammad, bahwa Abu Jahal paman Muhammad sedang sakit". Dalam pikiran Abu Jahal, Nabi Muhammad SAW kalau di beri tahu dirinya sakit niscaya dia akan hadir, karena dia adalah orang baik. Maka pembantunya pergi ke rumah Nabi besar Muhammad SAW menyampaikan amanat Abu Jahal. Setelah itu Nabi besar Muhammad SAW bergegas menuju ke rumah Abu Jahal. Pembantu Abu Jahal di suruh memata-matai di depan rumah, kata Abu Jahal "Kalau Muhammad datang kasih tau saya". Maka menjelang beberapa waktu datanglah Nabi besar Muhammad SAW dari kejauhan rumah Abu Jahal. Maka pembantu Abu Jahal memberi tahu kepada Abu Jahal. Semakin mendekat Nabi itu, semakin was-was perasaan pembantu Abu Jahal tersebut, begitu sudah dekat sekali, hanya beberapa langkah lagi, Malaikat Jibril memberi tahu kepada Nabi besar Muhammad SAW bahwa di depannya ada lubang besar yang kalau di injak akan terjerumus ke dalam lubang. Maka setelah mendapat informasi dari Malaikat Jibril semacam itu, kemudian Nabi besar Muhammad SAW kembali lagi, tidak melanjutkan berkunjung ke rumah Abu Jahal. Setelah Nabi besar Muhammad SAW kembali maka pembantu Abu Jahal menginformasikan kejadian itu kepada Abu Jahal dan setelah di beri tahu Abu Jahal bangkit dari tempat tidurnya dan memberi tahu pembantunya supaya Nabi Muhammad datang kerumahnya. Pembantunya bersuara keras memanggil Nabi Muhammad supaya kembali ke rumah Abu Jahal, tapi Nabi Muhammad tidak perduli ajakan dari pada pembantu itu. Dan pembantu Abu Jahal memberi tahu lagi kepada Abu Jahal kejadian semacam itu, maka langsung Abu Jahal keluar dari kamarnya dan dia hendak memanggil sendiri Nabi Muhammad. Kemudian Abu Jahal lari keluar dari rumah akhirnya dia lupa bahwa di depan rumahnya ada parit  itu dan akhirnya terjerumuslah Abu Jahal ke dalam parit buatannya sendiri. Setelah kejadian itu, pembantu-pembantu Abu Jahal tidak bisa mengangkat Abu Jahal, maka Abu Jahal berkata pada pembantunya "Kasih tahu Muhammad, dia punya ilmu, dia bisa mengangkat aku dari lubang ini, tolongi Abu Jahal". Maka pembantunya mengejar Nabi Muhammad SAW dan setelah terkejar pembantunya memberi tahu pada Nabi Muhammad bahwa Abu Jahal terjerumus ke dalam lubang itu. Walaupun Nabi besar Muhammad SAW tahu, informasinya dari Malaikat Jibril bahwa Abu Jahal bikin parit itu untuk menjerumuskan dan membunuh dirinya, tetapi begitu Nabi Muhammad dimintai tolong oleh Abu Jahal untuk mengangkat Abu Jahal dari lubang, Nabi Muhammad kembali lagi menuju parit tersebut, dan setelah itu kemudian Nabi Muhammad berdoa kepada Allah SWT dan akhirnya terangkatlah Abu Jahal dari lubang parit bikinannya sendiri. Itulah akhlak Nabi besar Muhammad SAW.

Kalau marah, kesal, benci, dendam menyatu dalam hati, maka jadilah hati bergejolak dengan gejolak-gejolak yang sangat panas, itu sangat menyakitkan hati, dan itu membuat hati jadi tidak sehat. Kalau sudah demikian, maka jadilah muncul beraneka macam penyakit-penyakit hati, oleh karena itu usahakan ketiga hal di bawah ini selalu ada pada diri kita yaitu :

1. Dihati kita punya prinsip "Aku mau berbuat baik kepada orang lain walaupun orang lain berbuat tidak baik kepada diriku.
2. Berupaya untuk memunculkan prinsip tadi kepermukaan, sewaktu terjadi perbuatan tidak baik dari orang lain.
3. Mendoakan orang yang berbuat tidak baik kepada diri kita dengan doa kebaikan.

MERAIH CINTA ALLAH
MELALUI BERBUAT BAIK
KEPADA ORANG LAIN
TERUS MENERUS SAMPAI
AKHIR HAYAT

 
< Prev   Next >
designed by Web Master