Majalah Shaff
200808_Shaff
Kalam Profil: Adzkia | Kalam Profil: Adzkia |
|
| Tuesday, 29 July 2008 | |
Adzkia Islamic School Sekolah Dhuafa Binaan Daarut Tauhiid Jakarta
Belajar dari pengalaman yang terjadi di lapangan, khususnya ketika DPU-DT Jakarta memberikan santunan pendidik an baik ketika ada program bantuan pendidikan berupa beasiswa maupun ketika mustahik datang langsung kekantor lantas pengajukan permohonan bantuan pendidikan. Namun yang terjadi bantuan tersebut ternyata digunakan bukan untuk pendidikan melainkan untuk kebutuhan sehari-hari. Karena memang kondisi mereka butuh akan hal itu. Untuk menjembatani kebutuhan-kebutuhan tersebut maka DPU-DT Jakarta membuat program Misykat dan Adzkia Islamic School.
Misykat adalah program pemberdayaan ekonomi, secara generalnya adalah program pemberian modal dengan pendampingan terhadap jamaah yang diberi modal. Dengan sistem kelompok dan anggota dari tiap-tiap kelompok bertanggung jawab untuk mengontrol kelancaran modal pinjaman yang diberikan kepada salah seorang dari anggota tersebut. Program ini sekarang dalam tahap pelebaran wilayan zona model setelah berhasil didaerah Ciputat dengan gerobak barokahnya kerjasama dengan Telkomsel. Awal Berdirnya Adzkia Islamic School (AIS) Sedangkan program pendidikan berusaha membuat lembaga pendidikan yang berkualitas bagi dhuafa. Diawali dengan membuka program PLS (Pendidikan Luar Sekolah) pada tahun 2005 dibulan Agustus secara resmi program tersebut berjalan. PLS yang berjalan yaitu kejar paket B yang setara dengan SLTP dan Kejar paket C yang setara dengan SLTA. Tujuan awalnya adalah memfasilitasi mereka yang putus sekolah dan sudah berkecimpung di dunia kerja namun dari hasil kerjanya itu belum bisa memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Di satu sisi mereka tidak mempunyai waktu untuk belajar namun di sisi lain mereka menghabiskan waktu untuk bekerja meskipun tidak mencukupi kebutuhan pokok sehari-hari. Penyebabnya adalah tidak memiliki ijazah yang dibutuhkan dalam persyaratan dunia kerja dan mereka yang rata-rata hanya memiliki ijazah SD dan SLTP, akibatnya mereka tersisih di dalam dunia kerja. PLS merupakan salah satu solusi untuk mendapatkan ijazah secara resmi. PLS (Pendidikan Luar Sekolah) DPU DT Jakarta telah mewisuda dua angkatan dan untuk angkatan sekarang (2008) sedang mengikuti proses ujian akhir. Perkembangan yang terjadi di lapangan tidak sedikit yang mendaftar dalam usia sekolah baik tingkat SLTP maupun SLTA. Sedangkan PLS dikhususkan bagi mereka yang bukan usia sekolah SLTP maupun SLTA. Sehingga pada tahun 2006 diresmikan SLTP dan SLTA dengan nama Adzkia Islamic School atau AIS. Adzkia Islamic School (AIS) Kondisi Sekarang Awalnya kegiatan belajar dan mengajar dilaksanakan di komplek rukan Ciputat Indah Permai (Kantor DPU-DT Jakarta) di lantai tiga. Namun seiring perjalanan waktu dan kondisi yang kurang kondusif untuk kegiatan belajar dan mengajar (KBM) maka DPU-DT Jakarta menyewa tiga ruangan kelas di Yayasan Al-Khasyi’un selama tiga tahun. Dan akhir tahun 2008 merupakan batas akhir sewa ruang kelas tersebut. Tahap Pembangunan Sekolah AIS Dengan berakhirnya sewa ruang kelas dengan Yayasan Al-Khasyi’un maka menjadi kewajiban bagi pihak DPU-DT Jakarta untuk menyediakan sarana gedung untuk menunjang kegiatan belajar mengajar. Maka dengan segala upaya dikerahkan dan tentunya dengan bantuan donatur untuk mewujudkan bangunan sekolah tersebut.
Alhamdulillah telah berdiri bangunan Masjid ditanah Wakaf di daerah Serua Ciputat. Adapun bangunan sekolah sendiri sekarang dalam tahap penyelesaian. Mudah-mudahan dengan terwujudnya bangunan sekolah Adzkia Islamic School bisa menjadi salah satu solusi yang diberikan donatur DPU melalui DT Jakarta dalam dunia pendidikan di Indonesia. Hal tersebut bisa terwujud dengan kerjasama dari berbagai pihak yang ingin ikut andil dalam mengangkat harkat dan martabat manusia lewat pendidikan.
“Saya Ingin Menghadirkan Senyum Di Wajah Adik-Adik”
Bagaimana konsep awal berdirinya AIS ini? Adzkia Islamic School (AIS) awalnya didirikan untuk mengakomodir sahabat-sahabat kita yang tidak bisa melanjutkan sekolah, terutama yang terhambat karena faktor ekonomi. Sebelumnya kita mendirikan program Paket B, dan Paket C. Kemudian kita berencana membuat sekolah formal untuk anak putus sekolah tingkat SMP dan SMA. Kemudian berdirilah AIS.
Apa yang membedakan AIS dengan Islamic School lainnya? Pertama, segmennya untuk dhuafa. Kedua, secara personal kami mencoba membentuk karakter baik, dan Islami khas Manejemen Qolbu (MQ). Dan yang ketiga, mudah-mudahan bisa menjadi entrepreneur, mandiri dan produkltif.
Sistem pembelajaran yang diterapkan AIS ini bagaimana? Teman-teman yang punya idealisme dalam dunia pendidikan. Maka kemudian kita mengakomodir apa yang istilahnya dicontohkan atau dimodelkan Diknas dan Depag. Jadi kita mencoba menyusun kurikulum. Tetapi yang jelas konsep pendidikan umumnya, kami integrasikan dengan konsep MQ, leadership dan entrepreneur. Seiring dengan keterbatasan tempat belajar karena sementara ini kami sewa gedung. Jadi, kalau sekarang ini sistem belajarnya, pagi sampai siang untuk SMP. Siang sampai sore untuk SMA. Sore sampai malam, PLS yang paket.
Untuk tenaga pengajarnya, apakah itu semuanya sukarelawan? Memang di awal kita mencari siapa yang mau berkhidmat, meskipun juga kita tidak menyampingkan ada kontribusi finansial. Ya bisa dibilang ala kadarnya. Memang bila dibandingkan dengan beberapa sekolah, gaji gurunya masih di bawah standar. Dan hal ini juga sedang coba kita pikirkan, karena ikhlas adalah perkara masing-masing guru, masing-masing pribadi dengan Allah. Tapi masalah keadilan, yaitu antara orang yang mempekerjakan dengan yang dipekerjakan harus dijalankan. Itu yang disampaikan oleh guru kami, Aa Gym.
Kalau respon masyarakat terhadap munculnya AIS ini bagaimana? Alhamdulillah sangat antusias. Walaupun kita masih lemah di dalam strategi pemasaran, terutama apakah kita harus menjemput bola, yaitu mencari bibit-bibit unggul yang tidak mampu sekolah karena biaya. Ada siswa yang rela datang setiap hari ke Ciputat ini, padahal rumahnya di Muara Angke. Dia berangkat dari sana sekitar jam 4 dan pulang sampai jam 11 malam.Padahal dia seorang akhwat.
Boleh tahu, harapan Pak Anton dengan didirikan AIS ini? Harapan ini terkait juga dengan beberapa pendapat ketika ada pembicaraan dengan orang tua, adik-adik, dan pengurus. Kalau secara pribadi, saya ingin menghadirkan senyum di wajah adik-adik. Bahwasanya AIS ini bisa menjadi solusi dari prolematika pendidikan dan bisa menjadi wahana silaturahmi untuk bersama-sama dengan orang tua dan masyarakat, menuntaskan problematika pendidikan dan mencetak generasi-generasi yang islami, yang berkarakter.
Daarut Tauhiid Jakarta mengundang kerjasama Sahabat dalam Program Wakaf Produktif Pendidikan dengan mewujudkan Pembangunan Sekolah dan Pengadaan Fasilitas Belajar Mengajar yang Memadai Kami juga menerima kontribusi berupa buku pelajaran kursi, meja, maupun pakaian seragam Informasi lebih lengkap Telp. 021-7235255 Atau Jemput Wakaf Telp. 021-93455133 |
| < Prev | Next > |
|---|


